Mengenal Tradisi Saparan?
Tradisi Saparan adalah upacara adat tahunan yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa, khususnya di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah, setiap bulan Sapar dalam kalender Jawa (bulan Safar dalam kalender Hijriah). Kata “Saparan” sendiri diambil dari nama bulan tersebut.
Meskipun secara umum memiliki tujuan yang sama, yaitu sebagai wujud rasa syukur dan tolak bala (menolak musibah atau kesialan), setiap daerah memiliki cara pelaksanaan dan cerita latar belakang yang unik.
Sejarah dan Makna
Tradisi Saparan diyakini berasal dari kepercayaan kuno masyarakat Jawa yang menganggap bulan Sapar sebagai bulan yang penuh dengan energi gaib atau potensi kesialan. Oleh karena itu, ritual ini diadakan untuk memohon keselamatan, keberkahan, dan perlindungan dari Tuhan.
Selain itu, Saparan juga memiliki makna sosial yang mendalam:
- Wujud Syukur: Sebagai ungkapan terima kasih atas berkah dan hasil panen yang melimpah.
- Pelestarian Budaya: Mengajarkan nilai-nilai luhur dan menjaga warisan leluhur.
- Mempererat Kebersamaan: Prosesi Saparan biasanya melibatkan gotong royong seluruh warga, dari persiapan hingga pelaksanaan, yang memperkuat tali silaturahmi dan solidaritas antarwarga.
Contoh Tradisi Saparan di Berbagai Daerah
Setiap daerah memiliki ciri khas Saparan masing-masing:
1. Saparan Bekakak di Gamping, Sleman, Yogyakarta
- Asal-Usul: Tradisi ini berawal dari musibah yang menimpa Kyai dan Nyai Wirosuto, abdi dalem kesayangan Sri Sultan Hamengkubuwono I, yang tewas tertimbun longsor saat mencari batu gamping. Setelah kejadian itu, daerah tersebut sering tertimpa musibah.
- Prosesi Utama: Upacara ini melibatkan kirab gunungan dan sepasang boneka pengantin “bekakak” yang terbuat dari tepung ketan. Boneka ini melambangkan pengorbanan Kyai dan Nyai Wirosuto. Puncaknya, boneka bekakak ini kemudian disembelih sebagai simbol menolak bala, bukan sebagai persembahan manusia.
2. Saparan di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah
- Asal-Usul: Tradisi di Jatinom sangat erat kaitannya dengan sosok penyebar Islam, Kyai Ageng Gribig. Konon, ia membawa kue apem dari Tanah Suci yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.
- Prosesi Utama: Puncak acara Saparan di Jatinom adalah ritual Yaqowiyu, di mana ribuan warga berkumpul untuk berebut apem yang disebarkan dari atas menara masjid. Tradisi ini melambangkan berkah dan keberkahan yang dibagikan.
Bentuk Pelaksanaan Saparan Secara Umum
Meskipun berbeda di setiap tempat, Saparan sering kali melibatkan beberapa rangkaian acara berikut:
- Kirab Budaya: Warga mengarak gunungan yang terbuat dari hasil bumi sebagai simbol kemakmuran.
- Arak Tumpeng: Tumpeng yang berisi nasi dan lauk-pauk diarak keliling desa, lalu dibagikan kepada seluruh masyarakat.
- Larungan Sesaji: Di daerah pesisir, sesaji berupa hasil bumi atau makanan dilarung ke laut sebagai simbol doa dan permohonan.
- Doa Bersama dan Selamatan: Ritual doa dipimpin oleh sesepuh atau tokoh agama setempat, diikuti dengan acara makan bersama.
- Pagelaran Seni: Sering kali diiringi dengan pertunjukan seni tradisional seperti tari, wayang kulit, atau jaran kepang.
Tradisi Saparan tidak hanya menjadi ritual spiritual, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang unik dan sarat makna.
0 Komentar